.
Logo Metro TV

Percakapan Rahasia Pandji dan Agus Mulyadi tentang Stand Up Comedy

Berikut ini adalah wawancara rahasia antara Pandji Pragiwaksono [PP] dan Agus Mulyadi [AM] yang berhasil kami rampas dari brankas arsip negara. Wawancara ini dilakukan sebagai bagian dari proses pembuatan buku “Merdeka dalam Bercanda”. Sengaja dimuat di sini untuk mengurangi tingkat keprihatinan masyarakat.

[PP]: Apa kabar, Amu? Boleh saya panggil Amu? Atau harus Agus Mulyadi? Atau mau saya panggil Herman?

[AM]: Beib saja.

[PP]: Baik, pertama tama saya ingin pastikan bahwa pembaca saya tidak akan tahu bahwa anda adalah admin dari akun @standupmetroTV yang suka aneh kalau ngetweet. Rahasia anda aman di tangan saya. Pertanyaan pertama, kapan terbersit ide untuk membuat acara TV khusus stand-up comedy?

[AM]: Banyak yang menyangka begitu, tapi maaf saya bukan admin @standupmetrotv, Anda perlu bukti, pengakuan dan saksi untuk itu. Lagipula admin itu terlalu lucu, cerdas dan sulit sekali ditiru. Silakan saja follow untuk membuktikannya dan bedakan dengan akun saya @Agus_Mulyadi.

Oke, sekarang  mengenai ide pertama membuat acara Stand Up Comedy di Metro TV. Saya pribadi menyukai stand-up comedy maka muncullah ide untuk membuatnya menjadi program TV, tidak ingat pastinya kapan, agak lupa. Hanya pernah menguat sekitar tahun 2006 saat masih jadi Eksekutif Produser. Saat itu idenya masih sebatas wacana, belum sampai taraf teknis karena kendalanya adalah pengetahuan minim mengenai stand-up comedy, bahkan talent/comic-nya saat itu masih terbatas. Yang saya tahu hanya Iwel Wel dan Mendiang Taufik Savalas (yang belakangan juga baru tahu bukan murni stand-up comedy). 

Ide sampai mengendap lama dan muncul lagi saat diundang ke Twivate Concert Pandji Pragiwaksono (itu Anda, Cuk) sekitar bulan Juni atau Juli 2010 dan untuk pertama kalinya saya merasakan pengalamanan menyaksikan pertunjukan stand-up comedy. Itupun saya tahu ada stand-up comedy setelah tiba di lokasi dan dijelaskan oleh Mbak Tyas (kakak Pandji). 

Pengalaman itu sangat membekas banget, karena pertama, bisa tahu ada seorang Pandji yang ternyata lucu saat stand up comedy. Kedua karena penontonnya sangat lepas sekali tertawa pada materi yang disajikan saat itu, yakni materi nyata yang jarang saya dapati dari komedi Indonesia pada umumnya. Lebih berani, lebih blak-blakan, lebih dekat dengan yang kita lihat dan ada unsur permainan logika berpikir. Dalam hati, saya berkata saat itu, akhirnya saya ketemu nih yang bisa stand-up.

Setelah selesai menyaksikan Pandji tampil, langsung saya utarakan tentang ide ingin membuat program stand-up comedy juga (padahal Pandji sedang melobi saya untuk program Provocative Proactive saat itu, yang kemudian hari berakh... ah sudahlah). Namun saat itu ide ini belum bisa dimatangkan juga karena isu kendalanya masih sama, comic-nya masih sedikit. 

Kalau mau bikin jadi mingguan, hanya 2 nama yang ada di kepala saya: Iwel dan Pandji. Saya belum tahu Raditya Dika bisa stand-up comedy saat itu, walau dia sudah sangat terkenal kala itu, apalagi boro-boro tahu dia lucu. Terlebih lagi mukanya seperti... ah sudahlah. 

Balik ke ide yang saya utarakan ke Pandji, saat itu menurut saya kalau mau dijalankan masih ada beberapa pemikiran. Di Metro TV, secara momentum belum kuat, comic masih terbatas dan kesiapan masyarakat juga masih tanda tanya besar kala itu. Kenapa saya bilang begitu, karena saya tahu bahwa ada hal yang berbeda bisa dibawakan oleh genre stand-up comedy dari situasi unik, sensitif dan tabu yang jarang dibicarakan (walau saat itu saya belum paham tentang stand-up comedy, hanya bisa mengira saja dari pengalaman lihat di youtube atau acara stand-up comedy luar negeri). Nah, apakah Indonesia sudah siap menerima bahan-bahan seperti itu? Saya belum bisa menjawab, dan akhirnya tersimpan sebagai sebuah ide/wacana saja lagi malam itu.

Hingga sampai Juli 2011 terdengar riuh rendah di Twitter ada @StandupIndo yang jadi pembicaraan dan bikin Standupnite di Comedy Cafe, lalu diunggah ke Youtube dan kemudian diikuti acara susulan lain yang bertaburan dalam waktu cepat. Luar biasa! Saat itu saya cukup gusar, begitu banyak muncul comic yang saya tidak tahu dari mana sebelumnya. Belakangan saya tahu bahwa munculnya itu ada kaitannya dengan sebuah program di Kompas TV yang membuat kompetisi mencari bakat stand-up comedian.

Jujur, saya harus berterima kasih kepada teman-teman di Kompas TV yang jadi pemicu sejarah membesarnya genre ini ke permukaan. Setelah itu, saya mulai berpikir keras untuk mencari cara untuk segera mewujudkan ide yang sudah lama terpendam. Saya diskusi dengan Pandji lagi, lalu dengan Iwel Wel, mengenai rencana ini.

Saya berucap sendiri, saya harus jadi bagian momentum ini.

Lalu setelah itu saya mulai fokus pada pematangan konsep yang diinginkan, selanjutnya adalah tugas saya untuk menyakinkan internal Metro TV bahwa program ini bisa jalan! Selebihnya, seperti yang dilihat sekarang di layar Metro TV.

[PP]: Keputusan MetroTV untuk membuat 3 acara TV bertema stand-up comedy membuat comic se-Indonesia merasa punya wadah untuk "tampil" selain secara lokal di Open Mic kota masing masing. Bisa dijelaskan perbedaan 3 acara tersebut dan alasan membuat ketiganya?

[AM]: Awalnya hanyalah Stand Up Comedy Show setiap hari Kamis, lalu kemudian dipindah jadi Rabu karena pertimbangan komersial. Respons ke Stand Up Comedy Show sangat luar biasa, baik respons dari penonton (baca: rating), sponsor, media berita dan media sosial, terutama Twitter. 

Kemudian permintaan yang selalu masuk ke tim adalah durasi kurang, durasi kurang dan seterusnya. Lalu saya coba jajaki hal ini secara internal lagi dan juga sedikit demi sedikit menyakinkan ke mereka kalau genre dari stand-up comedy ini bisa divariasikan. Syukurlah performance dan respons dari Stand Up Comedy Show sangat baik, sehingga membantu sekali mempermudah untuk verifikasi program ini.

Hanya, kaitannya adalah strategi slot yang dilakukan oleh Metro TV agak berbeda, maka diputuskan untuk dibuat stripping dari Selasa hingga Kamis, bukan menambah durasi. Tujuannya untuk melepaskan kepenatan seharian dengan program komedi menghibur di malam hari. Kemudian tim menggodok untuk format yang akan dibuat setiap harinya, sesuai dengan karakter harinya. Maka, diputuskanlah:

Selasa, 22.30 WIB, Open Mic* 

Format ini diperlukan untuk sekaligus mengedukasi penonton mengenal lebih dekat stand-up comedy dan memberi peluang untuk comic baru atau orang yang tertarik mencoba bakat tanpa harus merasa terbebani karena ini bukan kompetisi. Maka dilibatkanlah Ramon Papana yang kita anggap kompeten untuk menjadi mentor dalam program ini, dari beliaulah juga pada akhirnya gua dan tim banyak mendapatkan pengetahuan mengenai stand-up comedy

Rabu , 22.30 WIB, Stand Up Comedy Show.

Simpel banget! Tiga comic tampil setiap segmennya dengan materi bebas yang mereka olah sendiri. Tim Metro TV hanya memfilter dan memilih bagian yang dianggap tidak cocok disiarkan. Bisa dibilang, ini format paling sederhana namun ditunggu banyak penonton dan comic juga

Kamis, 22.30 WIB, Stand Up Comedy Battle of Comics

Formatnya masih berkembang terus, tapi idenya adalah ingin mengadu bit (materi) comic dan kemudian dinilai oleh penonton di studio. Saat ini masih menggunakan sistem tema, namun ke depanya akan menggunakan subjek lain seperti roasting/rifting, dll.

[PP]: Menurut anda, saya ganteng atau charming?

[AM]: Anda kamseupay.

[PP]: Iwel sudah jauh lebih dulu memperkenalkan stand-up comedy di TV nasional, namun baru belakangan ini komunitasnya meledak. Padahal, pecintanya dan orang orang yang gatal ingin jadi comic saya rasa sudah ada sejak lama. Mengapa menurut anda ledakan ini terjadi cukup lama?

[AM]: Ini hanya soal momentum. Semuanya seperti sekarang karena ada proses yang sudah dibangun sebelumnya. Metro TV belum tentu pas momentumnya kalau menayangkan acara ini 5 tahun yang lalu. Kalau saja Iwel Wel tidak berani bikin Stand Up Comedy Show sendiri tahun 2004 di GKJ dan muncul meperkenalkan itu di layar kaca, mungkin situasinya tidak seperti sekarang.

Kalau saja Alm. Taufik Savalas tidak memperkenalkan semangat stand-up comedy di program Comedy Club saat itu, kita mungkin tidak akan masuk ke titik ini sekarang. Kalau saja Ramon Papana tidak secara konsisten memperkenalkan stand-up comedy dan membuat acara Open Mic dari tahun 1997, mungkin saat ini kita belum punya jumlah comic seperti sekarang.

Semua pihak ikut memberikan energinya sehingga ini secara sistematis, tanpa disadari menjadi kekuatan yang luar biasa yang sudah dibangun. Para comic saat ini seperti Anda, Radit, Mongol, Isman, Sammy, Acho, dll juga memberikan energi yang luar biasa sehingga genre ini menjadi meledak. Terima kasih juga kepada Youtube dan Twitter yang membantu pencinta stand-up comedy di Indonesia dapat tumbuh lebih cepat. Bayangkan sulitnya para pelopor memulainya tanpa itu semua.

Nah, tugas kita adalah memberi tawaran pemicu selera tawa yang berbeda. Tidak ada yang salah dengan tawaran komedi yang ada saat ini, hanya pilihan itu harus ada. Menurut saya, stand-up comedy hadir di saat (momentum) yang pas sekali saat masyarakat butuh alternatif komedi.

[PP]: Anda sangat mendalami komedi, saya sudah menonton dokumenter yang Anda buat tentang Bagito. Sangat bagus. Kalau dijual DVDnya saya pasti akan beli. Meskipun kalau gratis tentu saya akan lebih senang lagi. Jauh lebih senang lagi kalau anda bikin dokumenter tentang saya tapi, sudahlah, kembali ke pertanyaan: Bagaimana anda melihat perkembangan komedi di Indonesia, berkaitan dengan munculnya Stand-Up Comedy sekarang?

[AM]: Saya sangat suka komedi, dari kecil suka menonton acara komedi. Bahkan setelah dingat-ingat sekarang, perjalanan hidup saya sangat sering bersinggungan dengan komedi. Setelah sadar arti stand-up comedy juga baru ngeh kalau dulu di SMA pernah melakukannnya saat tugas presentasi beberapa kali di mana saya mencoba melucu di depan kelas. Belum sukses amat, tapi ada yang ketawa.

Komedi banyak membantu saya melupakan masa kepahitan dalam hidup, dengan komedi saya bisa belajar menerima kenyataan hidup. Nah, saya harus berterima kasih kepada pelaku komedi Indonesia untuk itu, banyak sekali. Warkop DKI, Bagito Group, Srimulat, P Project, dll. 

Atas pengalaman itulah saya percaya bahwa hal tersebut juga dirasakan banyak orang di Indonesia. Maka, komedi akan selalu maju dan dapat tempat di hati bangsa ini. Selera lucu boleh berbeda, tapi semua orang pasti suka komedi.

Stand-up comedy mengajak saya untuk tertawa lebih terhadap hal-hal pahit dan tabu dalam hidup saya, sehingga menerimanya jadi lebih mudah dan bisa ‘move on’. Saya percaya di Indonesia itu banyak orang yang seperti saya, menemukan cara menyembuhkan diri dengan menyaksikan komedi. Cara ini cukup efektif dan menyenangkan, asal kita berpikiran terbuka dan mencoba berbesar hati. Belajar lebih dewasa.

Komedi diperlukan oleh siapapun, di manapun dan kapanpun. Bahkan di acara pemakamanan sekali pun, tawa diperlukan untuk membantu kita ikhlas melepas beban. (Injil Lukas 6:21b “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa”)

Stand-up comedy di Indonesia ada sampai di titik saat ini dengan dukungan medium dan teknologi yang luar biasa, dipelopori anak-anak muda. Ini memberikan angin segar dalam genre komedi di Indonesia. Saya rasa nama Pandji juga tidak bisa dilepaskan dari pelopor besarnya stand-up comedy di Indonesia terutama kalangan anak muda—silakan ge-er, toh ini buku Anda sendiri.

[PP]: Mengapa nama Anda Agus? Kenapa bukan Herman Mulyadi?

[AM]: FYI, bapak saya namanya Herman. Betulan. 

[PP]: Di mata Anda, untuk membuat stand-up comedy terus awet dan berkembang, apa kira-kira yang harus dilakukan oleh para comic di Indonesia?

[AM]: Selama tayangan Stand Up Comedy di Metro TV, saya belajar terus mengukur respons masyarakat Indonesia terhadap genre ini, dan terhadap comic yang tampil. Sangat beragam. Yang sensitif banget pasti protes, apalagi dengan bit menyinggung SARA atau gender. Dan itu tidak sedikit.

Saya selalu menekankan hati-hati ke tim mengenai materi seputar cacat fisik atau menyerang SARA, namun harus juga berani bila ada materi yang membahas SARA tanpa memojokkan, untuk coba ditampilkan. Karena di situlah sisi edukasi sensitivitas tawa kita juga diuji.

Nah, disini lah dinamika itu selalu muncul, baik dari eksternal maupun internal. Saya sadar tidak bisa menyamakan iklim kultur di Amerika dengan Indonesia, pasti beda. Di sana, warga sipil saja diizinkan punya pistol.

Comic ada di depan dalam mengedukasi masyarakat, kita tidak bisa langsung berharap cepat tapi saya percaya banget saat ini, masyarakat sudah siap. Pasti bertahap dan butuh waktu. Makanya kadang kita mentolerir lelucon kodian masuk di program karena masyarakat masih lebih mudah menerima itu. Tapi, pelan-pelan kita giring pemahamanannya.

Kita harus bisa memahami keragamanan dan keunikan di Indonesia, terlebih kebanyakan yang belum mengerti apa itu stand-up comedy. Comic harus bisa menghadirkan stand up comedy yang simpatik buat diterima masyarakat dan bisa masuk ke kalangan lebih lebar, kalau belum apa-apa sudah terkesan eksklusif akan sulit lagi untuk ke depannya.

Comic harus bisa melakukan self censorship terhadap materi mereka sendiri, untuk setiap medium yang berbeda, bisa di TV, radio, café/club, variety stages, dll. Televisi tentu punya batasan, tapi ini adalah medium yang ampuh untuk menyebarluaskan genre ini. Kalau ditanya kira-kira apa yang harus dilakukan comic agar stand-up comedy lebih awet dan berkembang, mungkin lebih tepat yang jawab adalah para pakarnya. Lha wong saya saja masih pusing memikirkan bagaimana programnya awet dan berkembang di TV. Hehe.

[PP]: Terima kasih atas waktunya, tolong ditutup wawancaranya dengan doa dari Anda.

[AM]: Tuhan, jika ada orang-orang lucu dan berbakat di stand up comedy yang masih minder, tambahkan kepercayaan diri mereka dan tunjukkan mereka padaku agar bisa kuorbitkan jadi terkenal.

Kasih tahu mereka Tuhan, bahwa terkenal itu enak, banyak uang, banyak dikelilingi cewek-cewek. Kalau yang lucu itu ateis, tolong jangan diambil hati ya, Tuhan. Karena kalau Tuhan saja sensi, bagaimana kami Umat-Mu?

Berikan kami kesempatan untuk memajukan dunia stand-up comedy di Indonesia ya, Tuhan. Karena kami percaya ini bisa membantu sedikit menyenangkan hati bangsa ini yang sering sedih karena diajak prihatin.

Terima kasih Tuhan untuk kenal orang-orang lucu.

Terima kasih Tuhan untuk bisa jadi bagian semua ini.

Terima kasih Tuhan untuk selera Humor-Mu Yang Tinggi

Amin.

 

*Saat ini program Open Mic sudah tidak tayang dan ada penambahan program Stand Up Comedy Show On the Weeekend setiap Sabtu, 22:30 WIB.
** Dimuat dengan perubahan seperlunya. [ndigun]


Baca Yang Ini Juga:

comments powered by Disqus